Gejala Dan Penanganan Penyakit Vesikular Exanthema (VES) Pada Babi

Masa inkubasi yang normal sebelum munculnya gejala penyakit vesikular exanthema (VES adalah 1 sampai 3 hari. Ini meliputi kenaikan suhu bahan (105o sampai 106o F), diikuti oleh adanya vesikel-vesikel kecil (blister) pada moncong, puting, ambing dan kaki (biasanya di antara jari-jari). Blister tersebut bertahan 1 sampai 2 minggu. Infeksi sekunder yang terjadi karena cairan dari blister dapat menyebabkan pembengkakan pada mulut dan daerah kaki, hingga menimbulkan kepincangan serta sangat menurunkkan nafsu makan (babi yang terserang penyakit vesikular exanthema menunjukan pembengkakan pada jaringan di atas teracak dan pada alas kaki yang menyebabkan kelumpuhan).

Tingkat kematian yang ditimbulkan rendah, tetapi kadang-kadang babi itu mengalami keguguran. Babi-babi muda sangat terhambat pertumbuhannya.

Penyebabnya adalah suatu jenis virus. Penyakit vesikular exanthema (VES) ini telah diberantas di Amerika Serikat melalui program karantina yang ketat dan usaha penyembelihan. Wabah masih terjadi di negara-negara lain.

Karena kesamaan gejalanya dengan penyakit mulut dan kuku, di banyak negara penyakit itu terlewat mendapat perhatian. Pengendalian penyakit secara terus menerus senantiasa diperlukan disertai usaha memberi pakan yang masak, khususnya bahan-bahan sampah dapur karena bahan itu merupakan sarana penular virus yang penting. Kandang dapat didisinfeksi dengan menggunakan sodium hidroksida 2% sebelum babi yang baru didatangkan. Cara-cara tersebut sangat penting sebab untu penyakit ini tidak ada obatnya.

Comments

Popular posts from this blog

Anatomi Tubuh Pada Ayam

Sistem Pencernaan Babi (Pig's Digestive System)

Pemberian Pakan Babi Sesuai Penggolongan (Kelasnya)

Sistem Reproduksi Pada Sapi

Teknik Pemerahan Susu dengan Mesin Perah

Seleksi Pada Ternak Sapi Pedaging

Konversi Ransum pada Itik Petelur Mojosari

Pemerahan Susu Sapi Dengan Mesin

Pemuliabiakan dan Seleksi Pejantan Sapi Perah

Gangguan Reproduksi Pada Sapi Akibat Cacat Anatomi Saluran Reproduksi